Teknik Dasar Tolak Peluru Gaya Membelakangi (Gaya O'Brien)

Gaya Membelakangi (Gaya O'Brien)
Teknik Dasar Tolak Peluru Gaya Membelakangi  (Gaya O'Brien) ~ Tolak peluru adalah suatu bentuk gerakan menolak atau mendorong suatu bola besi bulat (peluru) dengan berat tertentu yang terbuat dari logam, yang dilakukan dari bahu dengan satu tangan untuk mencapai jarak terjauh (Wikipedia). Olahraga tolak peluru dilakukan pada sebuah lapangan tolak peluru khusus dengan ukuran-ukuran tertentu.

Pada umumnya, terdapat dua gaya dalam tolak peluru salah satunya yang akan kita bahas dalam artikel ini ialah tolak peluru gaya membelakangi (gaya o'brien). Gaya O’Brien ialah gaya tolak peluru yang dilakukan dengan cara membelakangi area lemparan terlebih dahulu sebelum melakukan tolakan.

Untuk bisa melakukan tolak peluru gaya membelakangi (gaya o'brien), teman-teman harus mengetahui juga beberapa teknik dasar dalam tolak peluru gaya membelakangi. Adapun teknik dasarnya adalah sebagai berikut.

1. Cara Memegang Peluru dan Meletakkannya pada Bahu
Peluru diletakkan pada ujung telapak tangan atau bagian yang dekat dengan jari-jari tangan. Jari-jari tangan terbuka, ibu jari dan jari kelingking menjaga agar peluru tidak tergelincir ke luar atau ke dalam. Setelah peluru dapat dipegang dengan baik. letakkan pada bahu dan tempelkan pada leher. Siku tangan yang memegang peluru agak dibuka ke samping sehingga ada jarak antara leher dengan peluru.

2. Sikap Badan pada Waktu akan Menolak
Apabila peluru dotolakkan dengan tangan kanan, sikap badan sebagai berikut.
  • Berdiri tegak pada kaki kanan dengan membelakangi arah tolakan.
  • Kaki kiri secara rileks ke belakang dengan ujung jari menyentuh tanah.
  • Tangan kiri diluruskan ke atas di samping telinga.
  • Pandangan mata ke depan bawah.
3. Cara Menolak Peluru
Pada saat peluru akan ditolakkan, kaki kanan berjingkat ke belakang disusul mendaratkan kaki kiri jauh kebelakang. Selanjutnya, putar badan ke arah kiri dengan cepat. Ketika dada menghadapke arah tolakan, peluru ditolakkan dengan cepat. Bantulan dengan tolakan kaki kanan dan seluruh badan. Bersamaan dengan itu peluru dilepaskan ke depan sejauh-jauhnya.

4. Sikap Badan Setelah Menolak
Sesudah peluru ditolakkan dan terlepas dari tangan, daratkan kaki kanan yang digunakan untuk menolak pada tempat kaki kiri. Kaki kiri terangkan ke belakang dengan lemas untuk menjaga keseimbangan agar badan jatuh ke depan.

Sumber pustaka: Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Kelas VIII SMP/MTs/Sujarwadi, Dwi Sarjiyanto; editor, Fitriani Lestari H., Retno Susanti; ilustrator, D. Wisnu Kinardi, Dewi Isnaeni.—Jakarta: Pusat Perbukuan, Kementerian Pendidikan Nasional, 2010.
Share:

Perbedaan Antara Tolak Peluru Gaya Membelakangi dan Gaya Menyamping

gambar gaya tolak peluru (gaya ortodock dan gaya o'brien)
Perbedaan Antara Tolak Peluru Gaya Membelakangi dan Gaya Menyamping ~ Pada umumnya, Atletik dapat diartikan sebagai gabungan dari beberapa jenis olahraga yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi lari, lempar, lompat, dan jalan. Adapun Tolak Peluru termasuk kedalam olahraga lempar, olahraga lainnya yang termasuk olahraga lempar ialah lempar lembing, dan lempar cakram.

Seperti yang telah kita ketahui bersama dan telah banyak dibahas sebelumnya bahwa olahraga Tolak Peluru mempunyai dua gaya, adapun gaya dalam tolak peluru ialah tolak peluru gaya membelakangi (O'brien) dan tolak peluru gaya menyamping (Ortodock). Kedua gaya ini banyak digunakan oleh atlit-atlit tolak peluru dalam pertandingan.

Apa perbedaan dari kedua gaya dalam tolak peluru tersebut? Secara teknik kedua gaya tolak peluru tersebut hampir sama, akan tetapi yang membedakannya yaitu dari awalannya. Pada gaya membelakangi (O'Brien) sikap badan berdiri tegak diatas kaki kanan dengan membelakangi arah tolakan. Sebaliknya, pada gaya menyamping (Ortodock) sikap badan menyamping kearah tolakan.

Untuk lebih jelasnya berikut ini cara melakukan tolak peluru dengan gaya menyamping (gaya ortodock).
  1. Sikap awal berdiri menyamping dengan sektor tolakan berada di sektor kiri tubuhnya, lutut kaki kanan ditekuk, sedangkan kaki kiri diluruskan ke belakang. Berat badan berada pada kaki kanan dengan pandangan mata ke depan.
  2. Tangan kanan memegang peluru yang diletakkan di atas bahu kanan menempel pada rahang, sedangkan tangan kiri diangkat ditekuk di depan wajah kiri berfungsi untuk menjaga keseimbangan tubuh.
  3. Gerakan akan menolak, yaitu kaki kiri diangkat kemudian diputarkan ke arah kiri sebanyak 2–3 kali putaran kemudian kaki kiri berpijak di sebelah kaki kanan.
  4. Kaki kiri digeser ke samping kiri sambil kaki kanan juga digeser mengikuti arah kaki kiri bergeser.
  5. Waktu kedua kaki bergeser ke kiri, peluru dilemparkan dengan cara tangan kanan yang memegang peluru didorong ke arah depan atas, jalannya peluru membentuk parabola diikuti pandangan mata ke arah jalannya peluru.
  6. Sikap akhir, berat badan berada di kaki kanan diusahakan tubuh tidak ke luar dari lingkaran.
Sementara itu, cara melakukan tolak peluru dengan gaya membelakangi (gaya O'Brien) adalah sebagai berikut.

  1. Fase Persiapan
  2. Mengambil posisi dengan membelakangi arah daerah lemparan dan berat badan berada di atas tungkai kanan. Sambil merendahkan badan, angkatlah tumit dari tungkai penopang, sementara tungkai belakang diangkat sedikit ke belakang atas. Selanjutnya tekuklah segera tungkai penopang hingga kedua tungkai tertekuk dan posisi badan menjadi lebih rendah dan membungkuk ke depan.

  3. Fase meluncur
  4. Luruskan tungkai kanan dengan cara menolak atau menghentakkan telapak kaki dan tumit ke lantai dan bersamaan dengan gerakan ini, tungkai kiri ditendangkan dengan kuat ke arah balok stop.

    Gerakan persendian di atas dapat mempertahankan suatu keseimbangan tubuh, yang menandai suatu luncuran kaki kanan meninggalkan lantai, seraya dengan cepat ditarik ke posisi bawah badan, tepat di titik pusat lingkaran sambil tungkai kiri hampir serentak menjangkau lantai dekat ke arah balok stop dan sedikit ke arah kiri garis lemparan.

    Kedua kaki mendarat dengan telapak kaki sementara badan tetap membungkuk, sambil kedua bahu dan kepala tetap membelakangi arah lemparan, sementara titik berat badan dipusatkan di tungkai kanan.

  5. Fase akhir
  6. Dimulai dengan pemutaran kaki kanan dan lutut ke depan dan dilanjutkan dengan pelurusan kedua tungkai. Pinggul digeser menyamping berat badan di antara kedua kaki. Bahu kiri dibuka ke depan dan bahu kanan diangkat dan diputar ke kiri, badan dibawa ke atas sedikit membusur dan gerakan ini didahului oleh gerakan putaran bagian bawah badan.

  7. Tolakan
  8. Sementara bahu dan lengan kanan mendorong peluru ke depan dan bahu kiri meneruskan gerakannya ke depan sejauh mungkin.Tolakan diselesaikan ketika bertumpu di tungkai kiri dalam keadaan lurus sambil tangan memberi dorongan terakhir pada peluru.

    Pada saat ini pelempar menghentikan laju badan ke depan melalui pergantian kaki, tungkai kiri bergerak ke belakang dan tungkai kanan bergerak ke depan, berat badan dipindahkan ke tungkai kanan dan badan diturunkan ke arah bawah.
Walaupun gaya awalan dari kedua gaya tolakan tersebut berbeda, akan tetapi tujuannya tetap sama yaitu menolak atau melempar peluru sejauh-jauhnya. Jika ditanya gaya mana yang paling baik, maka jawabannya ialah kedua gaya tersebut baik, tergantung orang atau atlit yang melakukannya nyamannya menggunakan gaya yang mana.
Share:

Persebaran Flora (Tumbuh-Tumbuhan) Kawasan Kepulauan Wallacea dan Papua

Padang sabana nusa tenggara [Travel Kompas]
Persebaran Flora (Tumbuh-Tumbuhan) Kawasan Kepulauan Wallacea dan Papua ~ Indonesia merupakan suatu negara berbentuk kepulauan yang terdiri atas lebih dari 17.000 pulau dan sebagian besar wilayahnya berupa lautan. Kondisi wilayah yang berbentuk pulau-pulau dan dikelilingi oleh laut mengakibatkan keadaan flora di Indonesia menjadi sangat beragam.

Keadaan flora di Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi dua subregion, yaitu subregion Indonesia-Malaysia di wilayah Indonesia Barat dan subregion Australia di wilayah Indonesia Timur. Secara garis besar, flora Indonesia terdiri atas empat kawasan flora, yaitu Flora Sumatra-Kalimantan, Flora Jawa-Bali, Flora Kepulauan Wallacea, dan Flora Irian Jaya (Papua).

Wilayah Kepulauan Wallacea adalah pulau-pulau di wilayah Indonesia bagian tengah yang terdiri atas Pulau Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Pulau Timor, dan Kepulauan Maluku. Wilayah-wilayah ini memiliki sifat iklim yang lebih kering dan kelembapan udara yang lebih rendah di banding kan dengan wilayah-wilayah Indonesia lainnya.

Corak vegetasi yang terdapat di Kepulauan Wallacea meliputi:
  1. Vegetasi sabana tropis di wilayah Nusa Tenggara;
  2. Vegetasi hutan pegunungan di wilayah pegunungan yang terletak di Pulau Sulawesi;
  3. Vegetasi hutan campuran di wilayah Maluku, yang terdiri atas berbagai jenis rempah-rempah (pala, cengkih, kayu manis), kenari, kayu eboni, dan lontar sebagai tanaman khas di daerah ini.

Hutan Papua [Travel Today]
Kondisi iklim Papua (Irian Jaya) sebagian besar merupakan tipe hutan hujan tropis atau Af sehingga jenis vegetasi yang menutupi kawasan tersebut adalah hutan hujan tropis. Berbeda dengan wilayah Indonesia bagian barat, vegetasi di wilayah ini memiliki corak hutan hujan tropis tipe Australia Utara, dengan jenis flora yang khas yaitu ekaliptus.

Wilayah pegunungan Jaya Wijaya ditumbuhi jenis vegetasi pegunungan tinggi, sedangkan di daerah pantai banyak dijumpai vegetasi hutan bakau (mangrove).

Sumber pustaka : Geografi 2 Jelajah Bumi dan Alam Semesta : untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas /Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial / penulis, Hartono ; editor, Toni Kurniawan . -- Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.
Share:

Persebaran Flora (Tumbuh Tumbuhan) Kawasan Jawa–Bali

Hutan Jawa [Profauna]
Persebaran Flora (Tumbuh Tumbuhan) Kawasan Jawa–Bali ~ Secara garis besar flora di Indonesia terbagi menjadi empat kawasan, sebelumnya kita telah membahas persebaran flora di kawasan sumatera - kalimantan, kini kita akan membahas persebaran flora di kawasan jawa - bali.

Bukan rahasia umum lagi jika pulau Jawa dan Bali merupakan pulau yang mempunyai kepadatan yang sangat tinggi di Indonesia, hal itu sangat mengancam keberadaan hutan yang ada di kedua pulau tersebut yang menjadi rumah dari tumbuhan-tumbuhan khas dari Jawa dan Bali.

Kondisi iklim kawasan Pulau Jawa sangat bervariasi dengan tingkat curah hujan dan kelembapan udara semakin berkurang ke arah timur. Wilayah Jawa Barat didominasi oleh Tipe Iklim Hutan Hujan Tropis (Af) dan Iklim Musim Tropis (Am). Semakin ke timur, tipe iklim bergeser ke arah tipe iklim yang lebih rendah curah hujannya. Akhirnya ditemui beberapa wilayah Iklim Sabana Tropik (Aw) di Pulau Bali. Keadaan ini membawa pengaruh terhadap pola vegetasi alam yang ada.

Kawasan hutan hujan tropis di wilayah ini sebagian besar terdapat di Jawa Barat, seperti di Gede-Pangrango, Cibodas, dan Pananjung. Adapun wilayah utara Pulau Jawa yang memanjang mulai dari Jawa Barat bagian utara, Jawa Tengah, sampai Jawa Timur merupakan kawasan hutan musim tropis yang meranggas atau menggugurkan daunnya pada musim kemarau. Jenis flora khas hutan musim tropis antara lain pohon jati.

Jenis vegetasi yang mendominasi wilayah Jawa bagian timur dan Pulau Bali adalah vegetasi sabana tropis. Wilayah-wilayah pegunungan yang cukup tinggi di Pulau Jawa maupun di Pulau Bali banyak ditutupi oleh vegetasi hutan pegunungan tinggi.

Walaupun tak seluas hutan di kawasan sumatera dan kalimantan, hutan di jawa dan bali masih dapat kita lihat karena banyaknya kawasan-kawasan taman nasional serta cagar alam yang dibuka untuk melindungi kawasan hutan beserta isinya dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Sumber pustaka : Geografi 2 Jelajah Bumi dan Alam Semesta : untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas /Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial / penulis, Hartono ; editor, Toni Kurniawan . -- Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.
Share:

Persebaran Flora (Tumbuh-Tumbuhan) Sumatera - Kalimantan

Hutan sumatera [Berita Sains Kompas]
Persebaran Flora (Tumbuh-Tumbuhan) Sumatera - Kalimantan ~ Indonesia terkenal akan keanekaragaman hayatinya, tidak kurang berbagai jenis spesies hewan dan tumbuhan ada di Indonesia dan beberapa diantaranya adalah endemik atau hanya bisa didapat di Indonesia. Persebaran flora atau tumbuhan di Indonesia dapat kita bagi berdasarkan kawasannya, salah satunya ialah Sumatera-Kalimantan.

Sebagian besar wilayah Sumatra dan Kalimantan merupakan wilayah iklim hutan hujan tropis atau tipe Af berdasarkan klasifikasi Iklim Koppen. Iklim di wilayah ini dicirikan dengan adanya tingkat kelembapan udara dan curah hujan yang selalu tinggi sepanjang tahun.

Oleh karena itu, tipe vegetasi yang mendominasi wilayah ini ialah hutan hujan tropis, yaitu tipe hutan lebat dengan jenis tumbuhan yang sangat heterogen. Pohon-pohonnya tinggi dan sangat rapat, di bawahnya ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan yang lebih rendah dan tanahnya ditumbuhi perdu dan rumput-rumputan sebagai penutup.

Beberapa jenis flora khas daerah Sumatra-Kalimantan adalah tumbuhan meranti (dipterocarpus), berbagai jenis epifit, seperti anggrek, berbagai jenis lumut, cendawan (jamur), dan paku-pakuan, serta tumbuhan endemik yang sangat langka, seperti Rafflesia arnoldi yang penyebarannya hanya di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan dari mulai Nanggroe Aceh Darussalam sampai Lampung.

Kini jenis-jenis flora atau tumbuha-tumbuhan khas sumatera dan kalimantan terancam punah sebab kawasan hutan semakin berkurang karena pembalakan liar serta pembukaan perkebunan-perkebunan berskala besar. Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah flora atau tumbuh-tumbuhan ini dari kepunahan?

Sumber pustaka : Geografi 2 Jelajah Bumi dan Alam Semesta : untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas /Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial / penulis, Hartono ; editor, Toni Kurniawan . -- Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.
Share:

Klasifikasi Daerah Persebaran Fauna di Dunia Menurut Alfred Russel Wallace

Ilustrasi [Emaze]
Persebaran Fauna di Dunia Menurut Alfred Russel Wallace ~ Fauna atau hewan yang ada di permukaan bumi penyebarannya di pengaruhi oleh keadaan lingkungan hidup yang sesuai untuk tempat hidupnya. Jika suatu kelompok fauna sudah tidak sesuai lagi untuk menempati suatu daerah tertentu, kelompok fauna tersebut akan melaku kan migrasi atau perpindahan ke daerah lain.

Menurut Alfred Russel Wallace, daerah persebaran fauna di dunia dapat diklasifikasikan menjadi delapan wilayah persebaran, yaitu fauna paleartik, fauna neartik, fauna neotropik, fauna ethiopia, fauna oriental, fauna australia, fauna selandia baru (oceania), dan fauna antartika.

1. Fauna Paleartik

Daerah persebarannya meliputi wilayah Siberia, Rusia, sebagian besar Benua Eropa, daerah sekitar Laut Mediterania sampai Afrika bagian utara, Cina, dan Asia bagian timur laut termasuk Jepang. Jenis fauna yang termasuk wilayah Paleartik antara lain berbagai spesies anjing, termasuk srigala, tikus, kelinci, beruang kutub, panda, dan rusa kutub.

2. Fauna Neartik

Daerah persebarannya meliputi Amerika Utara sampai dengan Meksiko. Jenis faunanya antara lain antelop bertanduk cabang, tikus ber kantung, kalkun, berbagai jenis spesies burung, anjing, kelinci, ular, kura-kura, dan tupai.

3. Fauna Neotropik

Daerah persebarannya meliputi Amerika Selatan, Amerika Tengah, Meksiko bagian selatan, dan India bagian barat. Jenis Fauna Neotropik antara lain armadillo, piranha, belut listrik, ilama (unta Amerika Selatan), buaya, kadal, kura-kura, dan berbagai jenis spesies kera. Fauna di wilayah Neotropik sebagian besar terdiri atas vertebrata (bertulang belakang) sehingga daerah ini seringkali disebut wilayah vertebrata.

4. Fauna Ethiopia

Daerah persebarannya meliputi sebagian besar Afrika, Jazirah Arab bagian selatan, dan Madagaskar. Jenis Fauna Ethiopia antara lain kuda nil (yang terdapat hanya di Sungai Nil, Afrika), gorila, simpanse, unta, trenggiling, lemur, zebra, cheetah, singa, dan zarafah.

5. Fauna Oriental


Daerah persebarannya meliputi Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Jenis Fauna Oriental antara lain gajah, badak, orangutan, gibbon, harimau, rusa, banteng, berbagai jenis unggas, ikan, reptil, dan serangga.

6. Fauna Australia

Daerah persebarannya meliputi Papua, Kepulauan Aru, Australia, dan Tasmania. Jenis faunanya antara lain kanguru, platypus (cocor bebek), kuskus, koala, wallaby, cendrawasih, kasuari, ular piton, buaya, kadal, kakatua, dan merpati.

7. Fauna Selandia Baru (Oceania)

Daerah persebarannya meliputi Selandia Baru (New Zealand) dan pulau-pulau kecil di sekitar Oceania. Jenis Fauna Oceania antara lain kiwi dan sphenodon.

8. Fauna Antartika

Daerah persebarannya meliputi Benua Antartika dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Jenis Fauna Antartika antara lain pinguin dan anjing laut.

Sumber pustaka : Geografi 2 Jelajah Bumi dan Alam Semesta : untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas /Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial / penulis, Hartono ; editor, Toni Kurniawan . -- Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.
Share:

Ciri-Ciri Hutan Mangrove (Hutan Bakau) dan Hutan Berdaun Jarum (Conifer)

Hutan bakau [MANGROVEMAGZ.COM]
Ciri-Ciri Hutan Mangrove (Hutan Bakau) dan Hutan Berdaun Jarum (Conifer) ~ Banyak yang bilang bahwa hutan merupakan sumber dari kehidupan, bagaimana tidak hutan merupakan tempat dimana tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan udara segar bagi semua makhluk hidup. Terdapat dua jenis hutan yang juga penting bagi makhluk hidup, yaitu Hutan Mangrove dan Hutan Berdaun Jarum.

Hutan mangrove merupakan jenis hutan di daerah tropis yang ditumbuhi berbagai jenis vegetasi khas rawa-rawa pantai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Ciri-ciri dari vegetasi hutan mangrove antara lain ditandai dengan sistem perakaran vegetasi yang sebagian berada di atas permukaan air. Sistem perakaran tersebut berfungsi sebagai alat respirasi dan penangkapan lumpur dari peristiwa pasang surut air laut.

Jenis-jenis vegetasi di hutan mangrove antara lain nipah dan bakau. Wilayah penyebaran hutan mangrove terutama di pantai-pantai landai berlumpur di wilayah Australia Utara, Afrika Barat, Amerika Selatan terutama Brazilia, dan Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Hutan berdaun jarum merupakan jenis hutan yang banyak terdapat di daerah iklim sedang sampai dingin. Ciri hutan ini vegetasinya ber daun jarum (conifer), memiliki ketinggian yang relatif sama, berbatang lurus, dan berbentuk kerucut, seperti pinus, cemara, dan cedar.


Di Eropa terutama di sekitar daerah Siberia, hutan conifer banyak ditumbuhi jenis vegetasi yang disebut larix yang menggugurkan daunnya pada musim dingin (winter). Adapun di Amerika Serikat sekitar daerah Columbia dan California tumbuh jenis vegetasi berdaun jarum raksasa yang disebut sequoia yang ketinggiannya dapat mencapai lebih dari 75 meter.

Sumber pustaka : Geografi 2 Jelajah Bumi dan Alam Semesta : untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas /Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial / penulis, Hartono ; editor, Toni Kurniawan . -- Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2009.
Share:

Teknik Dasar Tolak Peluru Gaya Membelakangi (Gaya O'Brien)

Gaya Membelakangi (Gaya O'Brien) ,  Teknik Dasar Tolak Peluru Gaya Membelakangi  (Gaya O'Brien) ~ Tolak peluru adalah suatu ben...

Recent Posts